11/02/2007

Papua Perlu Model Pembudayaan

Ditulis oleh Administrator
Wednesday, 05 April 2006

Jakarta, Kompas - Layanan pendidikan di Papua, terutama di pelosok seperti Yahukimo, tak memungkinkan bertumpu pada jalur formal. Jalur nonformal atau pendidikan luar sekolah merupakan solusi jitu.

”Sayangnya, tidak semua tutor betah bertugas di sana karena tidak didukung etos, disiplin kerja, dan panggilan jiwa,” kata Ella Yulaelawati, Direktur Pendidikan Kesetaraan Depdiknas, Senin (20/3), di Jakarta.

Memaparkan hasil kunjungannya di kawasan Pegunungan Tengah, Yahukimo, pekan lalu, Ella menegaskan bahwa peningkatan kinerja tenaga pendidik di pelosok Papua tak hanya cukup dengan insentif kesejahteraan. Jauh lebih penting adalah upaya menyadarkan arti pendidikan bagi masyarakat setempat dengan model pembudayaan.

”Tutor purna-waktu yang direkrut dari daerah setempat hendaknya diinteraksikan dengan relawan dari luar daerah. Dengan demikian terjadi transformasi nilai untuk membangun etos yang positif,” kata Ella.

Papua Perlu Model Pembudayaan

Jakarta, Kompas - Layanan pendidikan di Papua, terutama di pelosok seperti Yahukimo, tak memungkinkan bertumpu pada jalur formal. Jalur nonformal atau pendidikan luar sekolah merupakan solusi jitu.

”Sayangnya, tidak semua tutor betah bertugas di sana karena tidak didukung etos, disiplin kerja, dan panggilan jiwa,” kata Ella Yulaelawati, Direktur Pendidikan Kesetaraan Depdiknas, Senin (20/3), di Jakarta.

Memaparkan hasil kunjungannya di kawasan Pegunungan Tengah, Yahukimo, pekan lalu, Ella menegaskan bahwa peningkatan kinerja tenaga pendidik di pelosok Papua tak hanya cukup dengan insentif kesejahteraan. Jauh lebih penting adalah upaya menyadarkan arti pendidikan bagi masyarakat setempat dengan model pembudayaan.

”Tutor purna-waktu yang direkrut dari daerah setempat hendaknya diinteraksikan dengan relawan dari luar daerah. Dengan demikian terjadi transformasi nilai untuk membangun etos yang positif,” kata Ella.

Terkait dengan itu, Direktorat Kesetaraan Depdiknas tahun 2006 ini akan melibatkan relawan dari perguruan tinggi untuk diterjunkan sebagai fasilitator di pelosok Papua. Keterlibatan perguruan tinggi, dalam bentuk kuliah kerja nyata bagi mahasiswa, akan dikoordinasikan dengan layanan pendidikan yang selama ini digalakkan oleh kalangan gereja dan TNI. Salah satu perguruan tinggi yang sudah didekati adalah Universitas Negeri Jakarta. ”Sebelum diterjunkan, mereka dilatih dulu di Balai Pengembangan Pendidikan Luar Sekolah,” tuturnya.

Ia menilai disiplin militer perlu diadopsi dengan memperketat kontrol di lapangan. ”Seperti pola TNI, diperlukan radio komunikasi untuk terus memantau keberadaan tutor di lokasi kerjanya,” kata Ella. (NAR)

The comments are closed.