11/03/2007

Gizi Dan Kesehatan

Jumat, May 25, 2007

Pendidikan anak usia dini merupakan sebuah awal membangun peradaban bangsa yang tangguh. Dimana para tokoh bangsa yang sudah “sepuh” umurnya, memerlukan pengganti dimasa depan untuk terus menopang kejayaan bangsa ini dimata dunia. Selagi kejayaan bangsa kita saat ini masih ditopang para tokoh lama negeri ini, kita juga harus mulai menciptakan tokoh-tokoh baru dibumi pertiwi ini. Mulai detik ini kita harus sudah mulai melahirkan tokoh baru yang berintelektual cerdasdan gemilang.

Sebuah awal yang sangat cermerlang, saya pribadi katakan begitu, karena dengan melalui pendidikan untuk anak-anak usia dini di negeri ini, adalah sama halnya kita membuat investasi yang sangat berharga untuk negeri ini. Dimana pada usia 0-6 tahun adalah masa yang paling efektif untuk mulai mengembangkan kecerdasan otak anak. Bahkan bayi dalam kandungan dalam usia 5 bulan ke atas saja sudah bisa dikembangkan sel-sel otaknya melalui rangsangan.

Detik ini kita sudah harus mulai memberikan pendidikan kepada tunas-tunas bangsa ini, maka setahun atau 2 tahun 3 tahun kedepan kita akan mendapatkan hasil yang sungguh sangat luar biasa. Dimana ada seorang anak 2 tahun sudah bisa beretika atau bersopan santun, anak 3 tahun sudah pandai berhitung, anak 4 tahun sudah bisa membaca, ini sungguh-sungguh hasil yang sangat luar biasa. Coba kita lihat pada zaman dulu, saya sendiri baru bisa mengenyam bangku pendidikan pada usia mau menginjak 7 tahun, dan baru bisa berhitung, menulis, membaca dengan agak lancar pada usia menginjak 8 tahun.

Berbagai macam model pendidikan anak usia dini (PAUD) nonformal pun sudah mulai menjamur di era milenium ini. Mulai dari TPA tempat penitipan anak, sekolah minggu, kelompok bermain dan lain-lain. Ini merupakan sebuah wadah yang sangat efektif mendidik anak bangsa untuk menjadi generasi baru dengan intelektual maju pula. Wadah seperti ini sangat cocok untuk menjadi tempat bermain sekaligus mendidik dengan mengarahkan anak-anak pada pendidikan yang nyata. Dengan memadukan tempat bermain sekaligus tempat pendidikan, dimungkinkan anak-anak ini akan kerasan tinggal beberapa jam sehari dengan para pendidik untuk menuntut ilmu. Bukankah belajar tidak harus menunggu masuk sekolah dasar dengan seragam resmi dan guru-guru yang “resmi” pula??!!

Keadaan seperti ini merupakan investasi yang sangat berharga, bukan sembarang investasi yang kita punya, bunga yang akan dipetikpun bukan sembarang bunga, dividen yang akan dibagikanpun bukan sembarang dividen. Karena semakin kita memperhatikan pendidikan anak-anak kita sejak usia dini, hasil yang akan kita capai setahun atau 2 tahun atau 3 tahun yang akan datang mustahil sebuah kata kecewa.

Dalam hal ini untuk mewujudkan peningkatan akses mutu pelayanan PAUD nonformal sangat diperlukan kesadaran dari pihak setiap keluarga disetiap penjuru tanah air Indonesia. Pemahaman dari orang tua akan pentingnya pendidikan pada anak-anak mereka pada usia dini (0-6 tahun) sangat diperlukan. Pemahaman akan pendidikan ini sangat penting daripada membiarkan putra putri mereka, yang nantinya akan menjadi penerus generasi bangsa hanya bermain sendirian dirumah, apaalgi jika hanya untuk menonton tayangan televisi yang kurang bermutu, maka lebih banyak manfaatnya jika mereka memasukkan putra putrinya kedalam suatu wadah kelompok bermain sekaligus belajar.

Salah satu hal yang penting diperhatikan adalah dengan membuka kesadaran para ibu sebagai orang yang paling dominan dalam mendidik anak, untuk memeberikan pendidikan kepada anaknya sejak usia dini. Upaya yang bisa dilakukan salah satunnya melalui organisasi-organisasi kewanitaan yang ada di masyarakat. Hal ini bisa dimulai dengan melakukan penyuluhan ke setiap ibu rumah tangga untuk mendukung peningkatan akses PAUD nonformal ini. Kegiatan ini sangat diperlukan khususnya di daerah yang masih agak pedalaman, karena kesadaran akan pentingnya kebutuhan belajar masih rendah dan akses pendidikan yang masih sangat sulit.

Program pendidikan anak usia dini seharusnya diadakan disetiap desa diseluruh penjuru tanah air ini. Karena dengan program ini akan dapat meningkatkan kualitas sumber daya manusia dimasa datang yang akan dapat memutuskan mata rantai kemiskinan. Masih banyak daerah dinegeri ini yang belum tersentuh pendidikan, salah satu sebabnya adalah kesadaran didaerah yang masih sangat memprihatinkan akan pendidikan, ini menjadi tanggung jawab kita semua sebagai orang yang benar-benar peduli dengan masa depan mereka para penerus generasi bangsa. Sungguh sangat kasihan jika dinegeri yang sudah merdeka lebih dari setengah abad ini masih ada warga negaranya yang terbengkalai pendidikannya, atau bahkan sama sekali tidak mendapatkan akses untuk belajar. Malulah kita pada bangsa-bangsa tetangga yang sejarah masih jauh dibawah bangsa ini.

Pendidikan anak usia dini ditengah-tengah masyarakat sangat dibutuhkan untuk membentuk anak yang berkarakter, bersikap, berbicara dengan baik, punya kepercayaan diri, berani bersapa, tampil di muka banyak orang tanpa rasa takut. Itulah beberapa hal yang bisa dihasilkan dengan mendidik mereka pada usia mereka masih sangat dini. Dan ini bukan merupakan usaha yang tidak mungkin akan berhasil, karena telah banyak fakta dan data yang membuktikan akan kebenaran itu. Banyak anak-anak balita sudah bisa berbahasa arab padahal ia adalah anak orang jawa tulen, karena kedua orang tuanyalah yang mengajari mereka bisa berbahasa arab, dan masih banyak anak-anak luar biasa lainnya ditanah indonesia ini.

Lalu seperti apa anak-anak masa depan setelah mengikuti program pendidikan anak usia dini ini? Seperti yang dikatakan ketua PKK kecamatan kerinci kanan, Ofni Indrayani bahwa gambaran kwalitas dimasa depan pada anak dapat dilihat sekarang, “Karena dengan gizi yang baik dan pendidikan yang diperhatikan akan menciptakan kualitas yang baik maka dengan melalui program pendidikan anak usia dini ini, kerinci kanan akan berupaya meningkatkan sumber daya manusia yang lebih baik lagi. Kita akan melihat doktor-doktor muda di masa depan, sarjana-sarjana muda, sedangkan keilmuan mereka tidak diragukan, dan ini tentunya akan berdampak pada penghematan biaya pendidikan karena waktu yang dibutuhkan untuk menempuh pendidikan itu semakin cepat.

Segala sesuatu yang terjadi akan berdampak pada sesuatu yang lain, seperti hukum fisika “aksi sama dengan reaksi”, bisa direfleksikan dengan terciptanya sumber daya yang lebih sangat bermutu dari zaman sekarang mungkin penempuhan proses pendidikan pada saat inipun dapat berubah pada 5 atau 10 tahun yang akan datang. Dimana program strata 1 biasa diselesaikan dalam 4 tahun, mungkin 10 tahun yang akan datang dengan sumber daya yang jauh lebih berkualitas maka pemerintah akan menerapkan kebijakan baru, misal cukup 3 tahun untuk menempuh program strata 1. Berapa rupiah yang akan dihemat dari segi pendidikan sendiri? Jutaan? Ratusan juta? Miliaran? Triliunan? Yang jelas akan sangat besar dana yang untuk pendidikan akan dapat disisihkan dalam nominal yang sangat besar.

Untuk menggalakkan ini semua peran pemerintah sangatlah diperlukan, apalagi kata-kata seorang pemimpin adalah merupakan perintah yang harus ditaati bawahannya ataupun rakyatnya. Bisa kita bayangkan jika seorang presiden melakukan kunjungan pendidikan ke beberapa kota di Indonesia, dimana disetiap kota presiden memberikan pidato akan pentingnya pemberian pendidikan pada anak usia dini, pastilah tidak akan menunggu lama akan menjamur wadah-wadah yang menyediakan jasa sebagai tempat bermain sekaligus belajar.

Saat ini banyak orang tua yang sibuk dengan pekerjaan mengakibatkan pada sebuah pilihan mau tidak mau mereka harus mencarikan orang untuk menjaga anaknya selama ditinggal kerja. Bukankah lebih baik jika para orang tua itu memasukkan anak-anak mereka ke dalam taman penitipan anak, yang bisa menjaga mereka sekaligus ada teman-teman yang bisa di ajak bermain dan belajar.

Fasilitas ataupun jasa yang disediakan di setiap taman penitipan anakpun bervariasi, ada yang penuh dalam artian dari pagi saat anak itu dititipkan sampai saat sang anak di ambil oleh orang tua mereka kembali adalah tanggung jawab taman penitipan anak itu. Dari mulai menjaga, mengasuh, memberikan makan, tapi ada yang hanya menyediakan fasilitas penitipan, tempat bermain dan belajar, dan semua itu tergantung dari lamanya anak-anak itu dititipkan. Seperti halnya kelompok bermain, memberikan pelayanan tempat yang nyaman dan aman serta ada penjagaan saat bermain dan belajar.


Dalam mewujudkan peningkatan akses mutu layanan pendidikan anak usia dini dalam mendukung wajib belajar 9 tahun inipun tidak bisa lepas dari masalah umum yang ada seperti dalam dunia pendidikan pada umumnya, seperti permasalahan biaya, kesadaran individu, wadah sebagai tempat yang menampung, dan lain sebagainya. Tapi bukan menjadi sebuah pemutus asa karena adanya permasalahan-permasalahan tersebut, itu bisa dijadikan sebagai ”cambuk” untuk menyemangati kita semua dalam mewujudkan apa yang telah kita semua harapkan, bukankah jalan tak selamanya rata, penuh dengan batu sandungan yang harus dilalui dengan kehati-hatian.


Permasalahan itu semua jika kita sikapi dengan positif maka akan mudah pula kita memanagenya, tapi bila masalah itu kita hadapai dengan negatif maka sangat sulit untuk kita atasi, dan setiap permasalah yang ada seharusnya bukan permasalahan itu yang dipermasalahkan tapi bagaimana kita menempatkan masalah tersebut, bagaimana kita memandang masalah itu menjadi sebuah tantangan yang harus kita taklukkan dengan kecerdasan dan kesungguhan usaha. Dan mustahil kita semua hidup tanpa dibumbui dengan permasalahan, dan ini bukan berarti hidup itu untuk mencari masalah dan hanya untuk menghadapi masalah, sungguh banyak hakikat hidup kalaupun media ini khusus untuk membahasnya.


Pembiayaan untuk menunjang proses pendidikan sangat bisa kita usahakan, apalagi sebenarnya pendidikan adalah tanggung jawab pemerintah sebagai penanggung jawab kecerdasan anak bangsanya. Mulai sekarang mulai dipikirkan dan direncanakan kemudian dijalankan untuk bagaimana dalam masa yang akan datang, dana untuk itu bisa tersedia tanpa memberatkan anak bangsa, misalnya dengan mulai dianggarkan dalam setiap anggaran pengeluaran belanja di setiap tingkat pemerintahan, mulai daerah sampai pusat harus mau menganggarkan untuk menghimpun dana ini, kemudian dari dana yang akan terkumpul nantinya digunakan untuk mulai program pengembangan bagi daerah yang masih dalam proses pendidikan, dan peningkatan pada daerah yang sudah cukup baik pendidikannya. Pemerataan dana inipun tidak harus sama yang diterima di tiap daerah, tergantung kebutuhan dari daerah tersebut, meskipun daerah tertentu dapat menyisihkan dana yang cukup besar dari anggaran pengeluaran belanjanya, tentu saja tidak bisa demikian dibuat pemerataan mengingat daerah-daerah di Indonesia sangat beragam suku bangsanya, berbeda jumlah penduduknya di tiap pulaunya, berbeda tingkat intektualnya, maka dari itu pemberian dana harusnya disesuaikan dengan keadaan daerah tersebut.


Misal kita lihat pada daerah Papua dengan pulau Jawa,sumber daya yang ada pun sangat jauh berbeda jika kita lihat dari tingkat intelektualnya, bukan maksud untuk membeda-bedakan tapi ini adalah ketepatan dalam pengembangan, seperti ”the right man the right place”.


Sedangkan untuk permasalahan kesadaran individu untuk mengikuti pendidikan ini adalah bukan anak itu sendiri tapi orang tua yang mempunyai hak terhadap anak tersebut. Dimana orang tua yang sadar akan pentingnya sebuah pendidikan pastinya tidak akan mencampakkan pendidikan anak tercintanya. Walaupun kesibukan kerja yang terus mengejar, kepadatan jadwal yang semakin tak berongga, tapi yang namanya sebuah pendidikan untuk si buah hati adalah tidak kalah pentingnya dengan itu semua. Apakah kita sebagai orang tua terus-terusan mengejar materi tapi anak kita sendiri terlantar, tidak sering mendapat perhatian kita, kehangatan cinta kasih kita, keberadaan kita semua sangat dibutuhkan mereka, sangat penting bagi mereka.


Kesadaran masyarakat untuk peningkatan pendidikan anak usia dini ini dapat kita lihat nantinya dari antusias ibu-ibu ataupun orang tua membawa anak balitanya untuk mendapatkan pendidikan di pendidikan anak usia dini dan ini nantinya dapat dijadikan magnet penarik bagi ibu-ibu lain yang belum tersadarkan akan pentinya pendidikan dini bagi anaknya.


Hubungan antara seorang ibu dan anaknya bagaikan rantai yang takkan pernah putus, kasih sayang ibu sepanjang jalan, kasih sayang anak sepanjang galah, seperti itulah peribahasa yang sangat familiar di kehidupan ini. Sebagai orang tua yang bertanggung jawab hendaknya kita memperhatikan anak kita, walaupun tidak dengan materi tapi bukankah tanggung jawab tidak hanya dengan materi? Dan sangat lebih sangat berharga seorang tua yang mencurahkan perhatian, kasih sayang pada sang anak walau keadaan kita masih kurang berada, tapi itu lebih sangat penting untuk perkembangan kepribadian mereka sebagai generasi penerus bangsa ini. Banyak sudah kasus yang memberitakan seorang anak terjatuh dalam dunia narkotika disebabkan orang tua yang sangat jarang memberikan tanggung jawab non materi pada anak tersebut, hanya materi yang mereka berikan, menurut mereka dengan memberikan materi yang berkecukupan bahkan berlebih akan membuat anak bahagia, semakin sayang dengan mereka, tapi itu saja tidak cukup, yang mereka lebih butuhkan adalah kasih sayang kita, belaian kita, jiwa kita, cinta kasih kita, perhatian kita.


Pekerjaan yang tidak bisa ditinggalkan, kesibukan yang kian sibuk, bukan alasan kita untuk memberikan tanggung jawab pendidikan anak kita pada orang lain dengan memberikan ganti uang, tanggung jawab kita sebagai orang tua lah dalam hal pendidikan ini. Apakah kita akan menyalahkan orang lain yang telah memberikan pendidikan kepada anak kita? Sedangkan kita sendiri tidak ikut memperhatikan pendidikan pada anak kita tercinta itu. Apakah kita rela anak kita dididik sedemikian rupa tanpa sepengetahuan kita? Dididik menjadi orang yang bisa saja memusuhi kita? Atau diberikan pendidikan yang keliru? Tentu tidak, bukan?? Lalu kita harus bagaimana? Anda sendiri adalah agen penggerak bagi diri anda sendiri!! Lakukanlah yang terbaik buat buah hati anda, berikan pendidikan yang benar, berikan pelayanan yang spesial, berikan tempat yang bagus untuk pendidikannya.


Bagaimana kita membuka kesadaran para orang tua tersebut? Menjadi pekerjaan rumah bagi kita semua. Peran serta semua elemen bangsa sangat diperlukan demi menuntaskan masalah ini, seperti dengan bekerja sama dengan organisasi-organisasi yang ada dimasyarakat -untuk tingkat masyarakat- untuk memberikan pendidikan ataupun penyuluhan kepada warganya akan pentingnya pendidikan dini bagi putra putri mereka. Kelompok ibu-ibu PKK bisa sangat tepat menjadi wadah penyuluhan bagi para ibu rumah tangga. Tokoh masyarakat seperti pak Kadus, Kades bisa memberikan pengarahan pada warganya untuk memberikan pendidikan mulai dini bagi anak mereka.


Wadah sebagai tempat menampung anak bangsa menjadi permasalah lain dari program ini. Bagaimana jika sumber dayanya sudah ada, kesadaran individu (orang tua) sudah ada, sedangkan wadahnya belum ada, atau ada tapi belum mencukupi? Saya kira ini bukan masalah yang terlalu memusingkan, asal kita punya tekad kuat maka ini bisa menjadi hal yang sangat kecil. Bisa saja kita menggunakan sarana-sarana yang sudah ada untuk menjadi tempat melakukan proses itu, misal di waktu sorekan anak-anak sekolah dasar sudah pada pulang, kita bisa memanfaatkan gedung sekolah yang ada. Sekolah sore atau taman bermain dan belajar sore, merupakan program yang bisa kita jalankan. Program kita adalah bagaimana membuat akses mutu layanan pendidikan bisa didapat dengan mudah disetiap sudut bangsa ini, bukan masalah namanya apalah itu??


Penggunaan gedung yang sementara jangan dijadikan sebagai ”pelesu” semangat kita dalam menjalani pendidikan ini, bukankah pendidikan itu sudah bisa berjalan dengan adanya tempat, pengajar, pelajar, materi?? Entah tempat yang kita pakai untuk itu adalah rumah, sekolah, hotel, sewaan, kontrakan, punya pribadi, tapi itu bukan masalah!! Kesungguhan dan keuletan adalah sikap mental yang sangat dibutuhkan. Dimana dengan kesungguhan dan keuletan dalam menjalani suatu pendidikan menjadikan kita betah menjalaninya, senang, tanpa ada beban yang menggelantung. Contohlah bangsa lain dalam berjuang mempertahankan harga dirinya dimata dunia, sebagai sebuah contoh yang bisa kita tiru adalah negara Jepang. Dulu negara ini pernah dua kali, bayangkan, 2 kali di jatuhi bom atom oleh USA, luluh lantak negaranya, rata dengan tanah bangunan-bangunannya, manusia banyak jatuh mati, cacat, sudah tidak ada lagi yang tersisa dari negara itu, tapi sekarang bisa kita lihat bagaimana negara itu menjadi sebuah bangsa yang cerdas, pandai, banyak ilmuwan-ilmuwan, pencipta mesin berteknologi masa depan, dari manakah semua itu?? Sedangkan negara kita ini yang masih jauh lebih bagus sejarahnya dengan bangsa itu masih saja terus terpuruk dalam kemiskinan, keterbelakangan, kebodohan, dimana harga diri kita sebagai bangsa yang merdeka??


Bagaimana kita menjalankan diri ini, menempatkan jiwa kita dalam sebuah keteguhan, tanggung jawab akan masa depan. Diri kita adalah orang penting, kita semua adalah orang yang penting, kita semua dibutuhkan, keberadaan kita dinanti-nantikan, semua kita adalah ”agen pengubah” negeri ini.


Jika kesadaran masyarakat, dan semua warga negara tinggi, bisa saja dilakukan dengan pembangaunan secara swadaya. Tidak semua masyarakat dilingkungan kita adalah orang tidak punya, bukan? Tidak semua lingkungan tempat tinggal kita adalah orang-orang tidak mampu, bukan? Tinggal bagaimana kita berusaha mengetuk pintu hati mereka untuk sedikit saja dibuka memberikan sebagian hartanya untuk pengembangan pendidikan anak bangsa, pendidikan generasai penerus negeri ini.


Seperti yang ada di Jayapura, perhatian pemerintah baik pusat maupun daerah terhadap anak usia dini ini di Papua cukup tinggi. Ini seperti dapat kita lihat dari alokasi dana (APBN) 2007 ini, untuk pendidikan anak usia dini ini mendapatkan Rp. 5.917.615.000,00 ( Rp. 5,9 miliar lebih), atau naik 250% dari sebelumnya (2006) yaitu Rp. 2,6 miliar. Dan ternyata pemerintah provinsi papua juga tidak mau kalah, melalui APBD nya bisa mengalokasikan dana untuk pendidikan anak usia dini ini sebesar Rp. 3.909.000.000,00 ( hampir Rp. 4 miliar), jumlah ini naik 300% lebih dari tahun 2006 lalu yaitu Rp. 1 miliar.


Seperti juga yang dikatakan Kasubdin pendidikan luar sekolah (PLS) Dinas Pendidikan dan Pengajaran provinsi Papua Drs. H. M. Yusuf, MM mengatakan, alokasi dana yang besar ini bertujuan untuk mempercepat pembangunan, pengembangan dan pembinaan pendidikan anak usia dini ditanah papua. Menurutnya juga, membangun anak usia dini sama halnya berinvestasi untuk masa yang akan datang, karena dengan demikian, dapat menghasilkan manusia di papua yang cerdas, dalam rangka menjawab tantangan peningkatan kesejahteraan masyaraka ke depan. ”Anak merupakan generasi penerus pembangunan” katanya juga.


Sedangkan kepala dinas P&P provinsi Papua, Drs. James Modouw, MMT mengatakan bahwa membangun anak usia dini harus dari keluarga. Untuk itu, peran seorang ibu sangat penting, dimana ia yang mengasuh, merawat dan membina anak, terlebih saat anak berada dalam perut dengan memberikan gizi baik. Ibu adalah guru pertama kita, dimana ia yang mengandung, melahirkan, menyusui, merawat, mengasuh, membesarkan, mendidik kita dari sesuatu yang sama sekali belum kita ketahui sebelumnya. Guru yang dengan ikhlas memberikan semua itu pada kita kala itu, disaat pengetahuan kita masih nol besar ibulah yang mengajari kita akan pengetahuan, diwaktu kita tak bisa berbuat apa-apa maka ibulah yang menuntun kita berperilaku, memang benar jika surga berada dibawah telapak kaki ibu.


Anak didik harus dimulai sejak usia dini, yaitu pendidikan anak usia dini, bahkan sejak dalam kandungan. Didalam banyak buku disebutkan bahwa janin dalam kandungan dalam usia sekitar 5 bulan sudah bisa dikembangkan sel-sel otaknya, sudah bisa di ajak belajar berinteraksi, bersapa, bermain, tentu dengan orang yang mengandungya, siapa lagi kalau bukan ibu-ibu kita? Seperti dengan kata-kata ”Nak, mari sholat” saat sang ibu sedang sholat, atau ”Nak, mari membaca” saat ibu sedang membaca, sungguh mengasyikkan bukan bisa belajar dengan si kecil? Apalagi apa yang di lakukan seorang ibu disaat mengandung janinnya sangat berdampak pada buah hatinya tersebut, makanya bagi para ibu khususnya, dan orang tua pada umumnya diwaktu isteri anda mengandung perbanyaklah amal-amal kebajikan, tingkatkan rasa syukur kita kepad Tuhan Sang Maha Pencipta, memohonlah yang baik-baik untuk buah hati kita kelak. Apapun yang dilakukan orang tuanya dikala mengandung si buah hati sangat berimbas pada janinnya!!


Pernah membaca buku yang berjudul Doktor Kecil, Mukjizat Abad 21? Kita bisa ambil apa yang termuat dalam buku tersebut, sungguh sangat menakjubkan ada anak usia 6 tahunan sudah hafal Al qur’an serta paham akan makna-makna, tafsir dan penggunannya dalam kehidupan sehari-hari. Pertanyaan kita bagaimana bisa tercetak anak yang seperti itu?? Bagaimana cara membuatnya? Bagaimana dulu cara mendidiknya? Apa makanannya? Apa kebiasaannya? Apa ini sebuah kewajaran? Dan serentetan pertanyaan lainnya. Ternyata semua itu tidak lepas dari jerih payah orang tuanya dikala sebelum menaburkan benih ke rahim istrinya sampai mengandung hingga anak itu terlahirkan ke muka bumi ini. Fase-fase yang tidak mudah untuk di jalani oleh orang tua pada umumnya, tahapan-tahapan yang penuh dengan batu sandungan, godaan, pengorbanan yang besar, tapi ya itulah sebuah perjuangan kita mencetak generasi yang berkualitas akhlak, pengetauan, dan juga agamanya.


Sedikit membahas tentang seorang anak yang saya ceritakan diatas, dulu kala waktu ibu bapaknya bertekad membentuk rumah tangga yang berkah, usia mereka berdua masih bisa dibilang muda untuk ukuran zaman sekarang. Setelah menikah orang tua anak ini sama-sama bertekad menghafalkan al qur’an 30 juz, dan ini bisa dicapai kurang lebih 6 tahun kedepan. Dan sepanjang mengandung anak ini, yang sekarang namanya Husein Tabataba’i, keduanya terus saja tidak lupa melakukan amal-amal kebajikan, sebagai rasa syukurnya ke Tuhan Maha Pemberi. Membaca al qur’an sehari beberapa juz untuk anaknya, semoga anak yang dilahirkan kelak menjadi anak yang gemilang pengetahuan agamanya, cerdas otaknya, dan seperti itulah hasilnya.
Sumber : Madrasah Cinta Anak Indonesia

The comments are closed.